Spread the love

Negosiasi bukan hanya tentang kesepakatan bisnis atau situasi penyanderaan.

Pada akhirnya, ini adalah keterampilan bekerja dengan orang-orang.

Itu berarti setiap orang harus belajar negosiasi—terutama orang-orang yang bekerja dengan anak-anak.

Bekerja dengan anak-anak adalah tentang membantu mereka belajar membuat keputusan yang baik.

Dan itulah yang dilakukan oleh negosiator yang baik juga.

Mereka bermitra dengan orang-orang untuk membantu mereka berpikir lebih jernih tentang pilihan mereka.

Kita cenderung melakukan negosiasi yang salah dalam 2 cara:

  1. Kami pikir mereka membuat tuntutan
  2. Kami pikir itu tentang kompromi yang seimbang

Kesalahpahaman ini menyebabkan masalah besar.

Pertama, membuat tuntutan dapat membuat anak memberontak atau menyerah.

Dengan kata lain, tuntutan membuat anak-anak merasa seperti Anda mengambil kekuatan mereka.

Mereka akan menolak dan melakukan hal mereka sendiri atau melepaskan diri sama sekali.

Kedua, kompromi yang seimbang tidak selalu merupakan hasil terbaik.

Katakanlah seorang remaja ingin pergi clubbing sepanjang malam pada hari Rabu, tetapi Anda berkompromi dengan membiarkan mereka keluar larut malam di rumah teman.

Itu seimbang tapi bukan yang terbaik. Remaja butuh istirahat, terutama di malam hari.

Negosiator yang hebat membuat orang merasa kuat dan mandiri.

Mereka membantu orang membuat pilihan terbaik dengan menggunakan pemikiran kritis mereka sendiri untuk menganalisis keputusan mereka.

Tapi bagaimana caranya?!

Berikut adalah 4 taktik yang perlu anda pahami:

  1. Gunakan Suara Anda

Manusia secara alami menyalin energi orang-orang di sekitarnya.

Akibatnya, Anda dapat membentuk percakapan dengan bagaimana Anda mengatakan apa yang Anda katakan.

Gunakan suara yang positif dan menyenangkan di sebagian besar waktu. Ini akan membantu anak-anak merasa nyaman dan terdorong.

Saat mereka cemas/kesal, gunakan suara DJ FM larut malam: pelan, dalam, dan tenang.

Gunakan suara tegas secara hemat, hanya untuk hal sangat penting karena akan menyebabkan pushback.

  1. Cermin

Cara terbaik untuk membantu seseorang berpikir adalah memaksa mereka untuk merenungkan apa yang mereka katakan.

Jangan mengkritik ide-ide mereka yang salah. Sebaliknya, ulangi kembali kepada mereka beberapa kata terakhir dari kalimat terakhir mereka.

Berikut contoh percakapan:

Remaja: “Saya ingin pergi clubbing dengan teman-teman saya”

Orang tua: “dengan teman-temanmu…”

Remaja: “Ya, saya telah bekerja keras semester ini dan saya pikir saya mendapat istirahat.”

Orang tua: “dapat istirahat…”

Remaja: “Yah, mereka telah meminta saya beberapa kali dan saya mengatakan tidak untuk belajar”

Orang tua: “tidak untuk belajar…”

Hindari terdengar lancang/tidak setuju. Tujuannya bukan untuk mempermalukan mereka atau membuat mereka merasa buruk tentang proses berpikir mereka.

Tujuannya adalah untuk membuat mereka terus berbicara dan membuka mata terhadap pemikiran mereka.

Akibatnya, Anda akan membantu mereka menganalisis apakah mereka membuat keputusan yang baik sendiri.

  1. Label

Orang-orang terbuka terhadap ide-ide baru ketika mereka merasa dipahami. Itulah kekuatan empati!

Kita sering salah dengan membuat percakapan tentang kita. Kami mengatakan hal-hal seperti: “Ya ampun, saya tahu seperti apa itu.”

Kami mencoba untuk terhubung tetapi kami benar-benar membuat orang lain merasa tidak didengar.

Jangan katakan Anda tahu apa yang mereka rasakan. Tunjukkan!

Beri label pada emosi yang Anda lihat, lalu jeda.

Beri mereka kesempatan untuk membongkar dan menjelaskan apa yang mereka rasakan.

Berikut ini contohnya:

Remaja: “Tolong ayah, klub akan sangat menyenangkan.”

Orang tua: “Sepertinya kamu ingin merayakan kerja kerasmu dengan teman-teman.”

Remaja: “Ya! Saya telah belajar begitu banyak tahun ini sehingga saya tidak dapat menghabiskan waktu bersama mereka. Ini kesempatan terakhir kita untuk hang out sebelum wisuda”

Label akan memberi Anda kesempatan untuk memverifikasi apa yang menurut Anda mereka rasakan.

Mereka membuat orang lain merasa seperti Anda mendengarkan dan dengan serius mempertimbangkan emosi mereka.

Mereka juga membantu mereka mengembangkan lebih banyak kesadaran diri dari perspektif mereka sendiri.

  1. Ajukan Pertanyaan Terbuka

Taktik terakhir adalah mengajukan pertanyaan asli yang membuat anak-anak berpikir.

Misalnya, alih-alih mengatakan “Tidak” kepada klub, Anda dapat bertanya:

“Bagaimana aku bisa membiarkanmu keluar begitu larut di klub?”

Mulailah dengan “bagaimana” dan pastikan itu pertanyaan terbuka, bukan ya atau tidak.

Tujuan Anda adalah untuk melibatkan mereka dan menarik mereka ke dalam proses pemecahan masalah.

Anda menantang mereka untuk mengambil tanggung jawab untuk menemukan alternatif yang lebih baik untuk diri mereka sendiri.

Taktik ini akan membantu Anda membangun hubungan yang kuat saat Anda mengatasi masalah sulit bersama.

Mereka lebih efektif untuk menciptakan solusi yang terbaik untuk semua orang.

Anda juga memberi contoh bagaimana anak-anak Anda dapat bekerja dengan baik dengan orang lain sendiri..

Baca juga: